Rabu, 21 Oktober 2009

Tak Seharusnya...

Sedih, mungkin itu yang bisa mewakili perasaanku saat ini… Yaa, berawal ketika melihat saudara-saudara seperjuanganku di kampus yang bekerja bersama untuk meraih kemenangan dakwah dikampus yang kini dipertanyakan keberadaannya.. Kemana mereka sekarang? Kemana mereka yang selama ini menjadi panutanku, yang menjadi andalanku untuk menyampaikan aspirasi.. . Seolah-olah mereka hilang ditelan bumi.. Rasa penasaran tetap bergelayut, ku coba untuk menghubunginya… meskipun Cuma melalui sms dan sekedar basa-basi menanyakan kabar.. Sms sore pun terkirim.. dan harus menunggu sampai isya dan sms itu dibalas.. SMS 4 lembar, yang berisi kekecewaan, kekecewaan, kekecewaan…. Yaa KEKECEWAAN.. pertentangan antara kebijakan mas’ul, kebijakan syuro dan kondisi pribadi-keluarga.. masalah klasik.. Malam itu masih dengan mukena, kubaca kata terakhir di sms itu.. afwan ukhti.. mungkin kegiatan di depan itu adalah konstribusi terakhirku di dakwah ini.. Rabb, serasa disambar petir, tiba-tiba mata ini panas, mengejang dan kembali kurasakan airmata yg jarang lagi kuarasakan.. air mata yang keluar sejadijadinya.. sebanjirbanjinya, hingga membasahi mukena ku…. Saudaraku, tak seharusnya kudengar kata-kata itu.. tak seharusnya… Kenapa harus saya yang mengetahui pernyataan itu langsung darimu?? Masih perasaan kalut, entah harus meluapkannya ke siapa?? Sms?? Tidak efektif.. Telpon?? Bukan mutiah deh, nelpon jam segini. Mau tak mau aktifkan chatting fesbuk, dan menemukan sang mas’ul yang sedang onlen… alhamdulillah, ada juga tempatku berbagi dan menemukan solusi.. itulah ukhuwah, indah jika bersatu.. semua terasa mudah jika dijalankan bersama-sama.. Apakah ini yang dinamakan seleksi alam… Yaaa, memang benar Dakwah ini ibarat pohon, semakin tinggi pohon itu semakin kencang angin yang menerpanya.. semakin lebat daunnya semakin banyak pula daun kuning yang berguguran… Apakah korban kekecawaan yang merasa tak kuat, tak mampu menghadapi perbedaan ini akan menjadi sampah sejarah yang tertinggal di tengah jalan dan menunggu angin menerbangkannya entah kemana akan berhenti, seperti dedaunan kering itu?? Sudahlah kalo memang itu mau mu… Tapi tak pernah ku berhenti berharap, kita akan bertemu lagi dijalan ini… dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun itu.. Pilihan memang sulit… Doakan kami masih bisa berjalan di jalan ini, dan semoga dirimu senantiasa mendukung langkah-langkah kami meskipun tak berada di barisan ini lagi…

4 komentar:

  1. Dakwah itu indah mut,,kenikmatan yg tersembunyi bagi org² yg memperhatikan ;)

    BalasHapus
  2. Tetaplah bertahan dan bersiap-siagalah !!!

    BalasHapus
  3. @kakak chie2 : iyaaaa...

    @dak tega ka tulis si cakep : (huekz)... iya bro, btul itu...

    @has : sip, karena perjalanan kita masih panjang...

    BalasHapus

Jangan Lupa tinggalkan komentarnya yah.....